Jumat, 01 Februari 2013

Banjir bukanlah Warisan Sejarah

Mobilitas warga Jakarta yang sangat tinggi memang menjadi salah satu faktor penunjang kemajuan ibukota negara tercinta ini. banyak  sekali aktifitas ekonomi dan sosial yang turut memutar roda perekonomian di Ibukota, Mulai dari pembangunan insfratuktur, proses transaksi ekonomi higga kebijakan-kebijakan politik didalamnya. Namun diantara banyaknya kegiatan sosial dan ekonomi yang membangun Jakarta ada salah satu masalah kompleks yang agaknya terabaikan yaitu mengenai masalah banjir yang selalu menggenangi wilayah Jakarta setiap tahun seperti halnya yang terjadi sekarang ini.

Banjir di Jakarta sebenarnya sudah menjadi masalah sejak 1.600 tahun lalu. Hal ini terlihat dari Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di daerah Cilincing, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti tersebut dibuat sekitar tahun 403 Masehi, dalam prasasti tersebut terukir sebuah kisah mengenai penggalian kanal atau sungai Candrabhaga dan sungai Gomati.  Pada masa itu, Raja Purnawarman sebagai raja ketiga dari Kerajaan tarumanegara membuat kanal sepanjang 11 kilometer untuk mengelola air agar tidak banjir, sekaligus untuk menampung air sehingga dapat di manfaatkan saat musim panas.

Tak hanya itu banjir juga terjadi pada zaman penjajahan Belanda setelah berakhirnya era kerajaan Hindu Budha. Pada masa itu Jakarta masih bernama Jayakarta dan berubah menjadi Batavia setelah Belanda  berhasil menguasai wilayah tersebut pada tahun 1619. Pemerintah Belanda pun tak luput dari masalah banjir karena buruknya sistem tata air yang tidak terawat. hingga akhirnya mereka membuat langkah-langkah penanggulangan dengan membuat sejumlah terusan sungai yang di gali dengan muara di Ciliwung, yang bertujuan sebagai drainase dan lalu lintas air. Namun langkah tersebut ternyata belum cukup untuk menyelesaikan masalah banjir di Batavia. Karena air sungai yang mengalir dari pegunungan tercampur dengan lumpur dan mengakibatkan pendangkalan.


Banjir di Jakarta terus berlanjut hingga sekarang. seolah menjadi agenda tahunan yang selalu dikeluhkan warga. Hal ini tidak dapat disamakan dengan anggapan bahwa banjir di Jakarta adalah warisan sejarah yang tidak bisa di hilangkan. Namun justru peristiwa banjir yang terjadi di masa-masa sebelumnya hendaknya dapat menjadi tolak ukur dan pembelajaran akan penanganan banjir agar lebih efektif. Dimulai dari tindakan kecil seperti kesadaran masyarakat untuk merawat lingkungan, kebijakan pemerintah yang tegas dalam larangan pembangunan gedung di titik tertentu yang seharusnya menjadi daerah resapan air hingga kejujuran pihak-pihak terkait dalam mengelola dana penanggulangan banjir seperti proyek BKT dan lainnya.

Penanganan banjir memang membutuhkan kesabaran, proses dan komposisi yang tepat. Terutama dari pengalaman banjir yang berabad-abad, keseriusan, kerjasama yang konkret dan sinergis antara pemerintah pusat, daerah dan segenap lapisan masyarakat. Sehingga terciptanya Ibukota yang bebas banjir.amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar