Jumat, 07 Juni 2013

Pengaruh Teknologi Terhadap Struktur Sosial


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah


Struktur sosial adalah susunan masyarakat secara hierarkis, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Sifatnya dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut Maurice Duverger Struktur sosial mencakup keterampilan teknologis, lembaga-lembaga dan kultur. Sedangkan menyangkut hal perubahan struktur sosial tentunya tak lepas dari faktor yang menyebabkan perubahan itu sendiri. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan pada masyarakat, biasanya akibat sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan, sehingga manusia berupaya untuk mengatasinya dengan segala cara, salah satunya adalah menciptakan teknologi. Secara garis besar faktor penyebab perubahan dapat dikelompokkan dalam dua perspektif, yaitu materialistic factors dan idealistic factors.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan menurut pemikiran S. Soekanto, 1990. Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat merupakan sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan, cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya, dan untuk itu manusia menciptakan teknologi sebagai wujud usaha mereka untuk mencapai keinginan dan memenuhi kebutuhannya.


B. Identifikasi Masalah

Pada Latar belakang tersebut cukup menjelaskan betapa kebudayaan merupakan bagian dari struktur  sosial. Sedangkan perubahan struktur sosial merupakan bagian dari efek  perkembangan kebudayaan yang juga meliputi perkembangan teknologi, sehingga terdapat hubungan keterkaitan yang patut dikaji diantaranya adalah:

1. Apa sajakah pengaruh teknologi terhadap struktur sosial?

2. Dan seberapa besar pengaruh itu sendiri?



BAB II
PEMBAHASAN

Dalam bahasan perspektif  materialis  yang menggunakan teori Marx, Veblen, Ogburn dan Ilmuan lainnya terdapat pandangan materialistis mengenai mekanisme perubahan dalam pernyataan terkenalnya seperti berikut:

-Kincir angin menimbulkan masyarakat feodal

-Mesin uap menimbulkan masyarakat kapitalis-industri

               Seperti yang diakui oleh Marx sendiri, hubungan antara teknologi jauh lebih rumpil dari pada yang di ungkapkan dalam pernyataan sederhana di atas. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Menurut Hirschman kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan. Dimana manusia merasa perlu melakukan perubahan tertentu untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan. Perubahan yang di inginkan manusia tak hanya sebatas peningkatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhannya, namun juga banyak hal lain, misalnya saja menginginkan tahta, bentuk tubuh yang di dambakan, komunitas tertentu yang diminati, dan sebagainya.

Perubahan sosial budaya terjadi karena banyak faktor, di antaranya adalah faktor teknologi yang diciptakan untuk mendukung mobilitas masyarakat yang tanpa di sadari ternyata juga membawa banyak pengaruh / faktor lain yang meliputi banyak aspek seperti faktor internal yaitu perubahan pada pola komunikasi perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi.  Sedangkan sebab dari faktor eksternalnya adalah bencana alam, perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Selain faktor pendukung perubahan sosial budaya, terdapat pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain, perkembangan IPTEK yang lambat, sifat masyarakat yang sangat tradisional, ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat, prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru, rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan, hambatan ideologis, dan pengaruh adat atau kebiasaan.

    Terdapat banyak sekali manfaat positif dari teknologi yang mengacu pada teori Marx, sekalipun dalam realitanya banyak pula dampak negatif dari teknologi yang terkadang bagaikan dua mata koin yang saling melekat dari dampak teknologi yang merubah sruktur sosial menjadi lebih baik hingga sangat buruk, terlebih jika terjadi penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Berikut adalah beberapa dampak teknologi terhadap struktur sosial yang terjadi di Indonesia:

Pengaruh positif teknologi di bidang Ilmu Pengetahuan / keterampilan teknologis (Perspektif Materialis):

I. Penguasaan keterampilan teknologi untuk pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder

   Kubu perspektif materialis memandang bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya faktor material yang menyebabkannya. Faktor material tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi dan teknologi yang berhubungan dengan ekonomi produksi. Pada dasarnya, perspektif ini menyatakan bahwa teknologi baru atau moda produksi baru menghasilkan perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, kepercayaan dan norma.Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.

Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar.

2. Pengembangan bakat teknologis

            Dengan adanya satu teknologi yang di temukan dan berguna bagi manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola fikir masyarakat untuk membuat teknologi serupa bahkan lebih inovatif yang tak lain untuk mendukung mobilitas dan meningkatkan taraf hidup. Hal ini terbukti dari makin beragamnya aneka macam teknologi di sekitar kita mulai dari teknologi yang bersifat komersil, teknologi yang bersifat edukasi, hiburan maupun alat bantu dalam menyelesaikan atau mendukung kinerja manusia, seperti  halnya komputer dan telepon. Telepon merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan suara (terutama pesan yang berbentuk percakapan). Kebanyakan telepon beroperasi dengan menggunakan transmisi sinyal listrik dalam jaringan telepon sehingga memungkinkan pengguna telepon untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya.Sejarah perkembangan dimulai dari tahun 1940, yaitu telepon mobile pertama kali digunakan secara komersial. Kemudian terus berkembang hingga seperti sekarang ini Contoh dari perkembangan telepon cukup memberikan suatu asumsi bagi kita bahwa dari waktu kewaktu teknologi akan terus berkembang karena faktor persaingan, gaya hidup, dan untuk pemenuhan keinginan manusia. Dengan satu teknologi manusia senantiasa belajar dan memahami teknologi tersebut untuk dikembangkan dan telah terbukti bahwa teknologi juga membawa peranan penting dalam keterampilan penguasaan teknologis.

Pengaruh positif teknologi di bidang lembag /tata pemerintahan (Teori Barrington Moore)

1. Modernisasi pola fikir dan peningkatan pertumbuhan ekonomi  

Peran pemerintah sebagai sumber perubahan tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Salah satu faktor pendorong yang tidak dapat diabaikan adalah teknologi. Perkembangan teknologi modern memberikan andil yang sangat besar dalam membawa perubahan pada masyarakat perdesaan. BIMAS dapat berjalan dengan sukses karena adanya inovasi teknologi di bidang pertanian. Demikian pula dengan program pembangunan perdesaan lainnya. Perkembangan teknologi kesehatan, transportasi dan komunikasi turut memberi warna dalam “keberhasilan” perubahan kebudayaan masyarakat perdesaan.

Catatan perjalanan pembangunan di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Salah satunya hasil penelitian Soemardjan dan Breazeale. Penelitian yang mengulas tentang perubahan budaya pada masyarakat pedesaan Indonesia sebagai akibat kebijakan pembangunan pedesaan yang diambil oleh pemerintah orde baru.  Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilakukan oleh pemerintah diwujudkan dengan modernisasi, sebuah pendekatan pembangunan yang lazim dilakukan oleh negara berkembang. Fokus telaah dalam penelitian ini adalah beberapa program pembangunan perdesaan, antara lain; listrik masuk desa, informasi masuk desa, pemberantasan buta huruf, PKK, KB, KUD dan intensifikasi pertanian (BIMAS).

Pembangunan perdesaan dengan perspektif modernisasi berasumsi pada dua kutub yang saling berbeda, yaitu pemerintah dalam posisi superior (pusat) dan masyarakat perdesaan sebagai posisi inferior (periferi). Perubahan selalu berasal dari pemerintah yang “menganggap dirinya lebih maju” dibandingkan masyarakat perdesaan. Budaya tradisional dianggap sebagai salah satu penghambat sehingga perlu digantikan oleh budaya modern yang lebih produktif. Orientasi utama pembangunan perdesaan adalah pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat perdesaan yang pada akhirnya akan meningkatkan pula taraf ekonomi bangsa.

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial. Perubahan kebudayaan ini dapat terjadi karena adanya faktor pendorong yaitu pemerintah. Pemerintah telah menjadi pihak yang memberikan introduksi dari luar sistem sebuah perubahan melalui pogram pembangunan perdesaan.

2. Sebagai sarana pendukung proses demokratisasi

            salah satu teknologi yang mendukung proses demokratisasi adalah hadirnya media komunikasi yang terdiri dari banyak fungsi dan bagian, misalnya  seperti pers. Pers adalah badan yang membuat penerbitan media massa secara berkala, definisi terminologisnya adalah media massa cetak atau media cetak.

            Pers merupakan salah satu sarana bagi warga negara untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peranan penting dalam negara demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis dan merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang demokratis. Menurut Miriam Budiardjo, bahwa salah satu ciri negara demokrasi adalah memiliki pers yang bebas dan bertanggung jawab.

Sedangkan, Inti dari demokrasi adalah adanya kesempatan bagi aspirasi dan suara rakyat (individu) dalam mempengaruhi sebuah keputusan. Dalam Demokrasi juga diperlukan partisipasi rakyat, yang muncul dari kesadaran politik untuk ikut terlibat dan andil dalam sistem pemerintahan. Pada berbagai aspek kehidupan di negara ini, sejatinya masyarakat memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan langkah kebijakan suatu Negara.

Pers juga merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pers sebagai kontrol atas ketiga pilar itu dan melandasi kinerjanya dengan check and balance. untuk dapat melakukan peranannya perlu dijunjung kebebasan pers dalam menyampaikan informasi publik secara jujur dan berimbang. disamping itu pula untuk menegakkan pilar keempat ini, pers juga harus bebas dari kapitalisme dan politik. pers yang tidak sekedar mendukung kepentingan pemilik modal dan melanggengkan kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar.

Pengaruh positif teknologi di bidang sosial  dan budaya:

1. Kerjasama antar varian kelas

Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille, 1970).
Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hingga pendidikan.

Pengaruh negatif teknologi di bidang Ilmu Pengetahuan / keterampilan teknologis

1. Hambatan dari dunia artifisial

            Memang tidak semua orang terkena imbas dari teknologi. Baik dari penggunaan yang disengaja maupun tidak disengaja (karena faktor lingkungan), namun sebenarnya banyak pula pengaruh teknologi yang tanpa disadari sudah menghambat seseorang dalam memperoleh ilmu maupun mengembangkan bakat lainnya, karena teknologi mampu memenjarakan seseorang dalam ketergantungan dan mengekang manusia dalam kesadarannya mengenai makna dari keaslian benda maupun nilai-nilai ilmu. Hal ini diakibatkan oleh efek dari penggunaan teknologi itu sendiri maupun karena kebiasaan penggunanya yang menggantungkan banyak hal dengan bantuan teknologi. Sebagai contoh nyatanya dampak teknologi terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologis jika di pandang dari sudut negatifnya adalah:

-Terpenjara oleh teknologi

Seseorang yang terpenjara oleh teknologi (seperti para pecandu game) sehingga menguras waktu dan perlahan mengubah cara berfikirnya mengenai ketidakpentingan lagi dalam hal lain termasuk ilmu pengetahuan / pendidikan yang seharusnya mampu memberikan skill atau keterampilan pada orang tersebut

-Kesesatan pada dunia artifisial

Dunia tiruan dalam makna atau sudut pandang budaya mengandung arti seperti nilai nilai kehidupan misalnya sosialisasi / komunikasi antar manusia yang digantikan dengan internet atau media jejaring sosial. Sedangkan dalam konteks ilmu / pendidikan sendiri dunia tiruan banyak mempengaruhi pemikiran manusia akan pengetahuan, dimana mereka banyak mengambil pelajaran dari dunia tiruan (dalam konteks internet) untuk dijadikan acuan bahkan guru, sekalipun pada dasarnya banyak kesalahan penafsiran yang terjadi di internet sehingga akan menyesatkan seseorang dalam mengembangkan ilmu atau bakatnya.

2. Penyalahgunaan keterampilan teknologis

            Pada awalnya semua pendidikan ditujukan untuk mendapatkan perubahan yang bersifat positif, namun pada akhirnya sering kali tujuan itu diselewengkan dengan berbagai alasan. Contohnya adalah kasus prostitusi,penculikan, pemerkosaan hingga pembunuhan yang dilakukan melalui media jejaring sosial. Contoh lainnya adalah Seorang Hacker dengan kemampuannya melakukan penerobosan sistem sebuah lembaga atau perusahaan, mereka dapat melakukan perampokan dengan tidak perlu merampok langsung ke Bank dan tempat-tempat lainnya, cukup dengan melakukan pembobolan   system keuangan atau informasi penting, maka mereka akan dapat keuntungan, dan sulit untuk dilacak pelakunya. Selain itu, dengan adanya pengolahan data dengan system Teknologi, sering kali kita temukan adanya terjadi kecurangan dalam melakukan analisis data hasil penelitian yang dilakukan oleh siswa ataupun mahasiswa, ini mereka lakukan untuk mempermudah kepentingan pribadi, dengan mengabaikan hasil penelitian yang dilakukan.

Pengaruh negatif teknologi pada lembaga / tata pemerintahan

I. Memicu terjadinya konflik antar negara untuk berkuasa

Negara yang mempunyai teknologi canggih dan lengkap biasanya memiliki potensi dalam memicu masalah konflik. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa mereka akan mampu menghadapi apapun rintangan yang menghalanginya dalam mencapai tujuan dengan menggunakan teknologinya. Seperti halnya upaya pemerintahann Amerika, Israel dan lainnya yang menempatan satelit-satelit pengintai di langit  negara targetnya, juga kapal-kapal induk pertahanan dan lain-lain yang dianggap ancaman, karena upaya tersebut dilakukan untuk menguasai serta mempengaruhi negara yang bersangkutan. Contoh lain yang juga mudah di lihat adalah upaya Amerika dan para sekutunya dalam memprovokasi Iran atas pengayaan uranium untuk nuklirnya. Amerika yang notabennya negara adidaya dengan kelebihan teknologinya merasa Iran adalah ancaman yang dapat menggangu kepentinganya dalam menguasai dunia dalam berbagai cara, sehingga timbulah konflik karena pertentangan pendapat yang mendasar dari kedua negara, yaitu atas kepentingannya Amerika memprovokasi dunia jika Iran adalah ancaman karena memproduksi senjata senjata nuklir pemusnah massal, sedangkan Iran sendiri mengaku bahwa tindakannya itu dilakukan hanya untuk menjaga pertahanan negaranya. Contoh lain yang terhangat adalah propaganda Amerika dan negara sekutunya dalam memprovokasi rakyat Syria dengan memberikan citra buruk pemimpinnya agar dapat menjatuhkan rezim Bashar Al-Assad. Dalam berbagai sumber bahkan disebutkan bahwa CIA (Central Intelligence Agency) milik Amerika mempersenjatai para oposisi Syiria untuk melawan rezim Bashar Al-Assad. Di sisi lain CIA juga menguasai semua stasiun TV di Syiria  yang mayoritas di pegang oleh kaum Yahudi untuk memberitakan hal buruk / provokasi agar rakyat Syria semakin membenci pemimpinnya. Disaat yang bersamaan upaya klarifikasi sang presiden melalui media televisi selalu di gagalkan. Politik adu domba tersebut dilakukan Amerika dan sekutunya untuk menjatuhkan rezim Bashar dan kemudian menggantinya dengan orang yang mudah di atur untuk kepentingannya.


Pengaruh negatif teknologi terhadap bidang sosial  dan budaya:

1. Stratifikasi yang memicu konflik

Dalam penilaian Marx, penguasaan keterampilan teknologi selain untuk pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder Marx juga melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis dan kaum buruh yang bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi. Menurut Marx terdapat tiga tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :
  1. Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.
  2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.
  3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.
Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.

Selain Marx, tokoh yang menyajikan pendapat tentang perspektif materialis adalah Ogburn. Ogburn menyoroti mengenai teknologi yang telah menyebabkan perubahan sosial di Amerika. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag. Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu:
I. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan teknologi.
II. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.
III. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat

Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh. Karena moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.
Tipe-tipe moda produksi, antara lain :

I. Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.

II. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.

III. Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal. Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu kreativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.

Teori Inkonsistensi Status

Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada. Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalam masyarakat.
Stratifikasi sosial pada masyarakat pra-industrial belum terlalu terlihat dengan jelas dibandingkan pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya derajat perbedaan yang timbul oleh adanya pembagian kerja dan kompleksitas organisasi. Status sosial masih terbatas pada bentuk ascribed status, yaitu suatu bentuk status yang diperoleh sejak dia lahir. Mobilitas sosial sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Krisis status mulai muncul seiring perubahan moda produksi agraris menuju moda produksi kapitalis yang ditandai dengan pembagian kerja dan kemunculan organisasi kompleks.
Perubahan moda produksi menimbulkan masalah yang pelik berupa kemunculan status-status sosial yang baru dengan segala keterbukaan dalam stratifikasinya. Pembangunan ekonomi seiring perkembangan kapitalis membuat adanya pembagian status berdasarkan pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Hal inilah yang menimbulkan inkonsistensi status pada individu.

2. Berkurangnya rasa sosial

Dalam mengikuti perkembangan zaman kita sebagai konsumen dari teknologi, banyak kontradiksi yang terjadi di dalam menjalankan kehidupan sosial disebabkan oleh kemajuan teknologi pada saat ini membuat kepentingan individu lebih tinggi dari kepentingan umum-nya, dengan kata lain, kemajuan teknologi membuat rasa sosial seseorang berkurang. Dan dampak dari kemajuan teknologi berpengaruh pada hubungan keluarga, sejawat serta lingkungan kehidupan keseharian yang mengakibatkan manusia secara individu terdorong untuk menutup diri dari lingkungan sekitar kehidupannya. Misalnya saja dengan hadirnya media komunikasi seperti phonsel, internet dan lain sebagainya.

Dalam kemajuan teknologi rasa sosialisasi manusia semakin berkurang dan banyak menimbulkan rasa prasangka terhadap sesama, sehingga dalam pertumbuhan sosial manusia saat ini banyak terjadi perselisihan antara satu dengan yang lain-nya, oleh karena itu, pertumbuhan sosial sangat di pengaruhi oleh perkembangan teknologi yang menyebabkan adanya kemajuan dan kemunduran di dalamnya, sehingga mengarahkan pertumbuhan sosial pada saat ini untuk melakukan kehidupan secara individualistis dan lebih ke-efesiensi. Hal ini sangat jelas terasa dalam kehidupan pada saat ini, sehingga kemajuan teknologi memaksa terjadinya perubahan sosial dalam bidang pola hidup seseorang untuk menjadi seseorang yang kapitalisme dan menciptakan seseorang tumbuh dengan kepentingan pribadi lebih tinggi dari kepentingan umum.



BAB III
PENUTUP

C. Kesimpulan dan saran

            Struktur sosial adalah susunan masyarakat secara hierarkis, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Sifatnya dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Seiring dengan perkembangan zaman, kejenuhan, tuntutan hidup dan perasaingan membuat manusia merasa perlu mengatasinya dengan membuat teknologi. Namun teknologi yang diciptakan untuk mengubah tatanan struktur sosial menjadi lebih baik ternyata juga membawa dampak negatif baik dari pengaruhnya maupun dari penyalahgunaannya oleh manusia sendiri. sehingga kedinamisan struktur sosial menjadi hilang karena perubahan yang terjadi di dalamnya oleh banyak faktor seperti tekhnologi.
            Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan menurut pemikiran S. Soekanto, 1990.
    Perubahan sosial budaya terjadi karena banyak faktor, di antaranya adalah faktor teknologi yang diciptakan untuk mendukung mobilitas masyarakat yang tanpa di sadari ternyata juga membawa banyak pengaruh / faktor lain yang meliputi banyak aspek seperti faktor internal yaitu perubahan pada pola komunikasi perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi.  Sedangkan sebab dari faktor eksternalnya adalah bencana alam, perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Selain faktor pendukung perubahan sosial budaya, terdapat pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain, perkembangan IPTEK yang lambat, sifat masyarakat yang sangat tradisional, ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat, prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru, rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan, hambatan ideologis, dan pengaruh adat atau kebiasaan.
            Terdapat banyak sekali manfaat positif dari teknologi yang mengacu pada teori Marx, sekalipun dalam realitanya banyak pula dampak negatif dari teknologi yang terkadang bagaikan dua mata koin yang saling melekat dari dampak teknologi yang merubah sruktur sosial menjadi lebih baik hingga sangat buruk, terlebih jika terjadi penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan teknologi adalah kehati-hatian  serta proteksi dan batasan tertentu dari penggunaan teknologi agar tidak terkena dampaknya atau bahkan menjadi penyebab dari dampak itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA


Duverger, Maurice, Sosiologi Politik, Jakarta: Rajawali Press, 1982

http://carakaperdanaxiips206.blogspot.com/2012/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Sosial

http://id.wikipedia.org/wiki/Stratifikasi_sosial

http://wikiindonesia.org/wiki/Artifisial

http://id.wikipedia.org/wiki/Telepon

http://himasio-unsyiah.blogspot.com/2011/11/pengaruh-teknologi-terhadap-perubahan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar